Wed. 24 June 2026

Kiprah

UPN "Veteran" Jawa Timur

Orkestrasi Dewan Pendidikan Surabaya, dari Wonosalam untuk Masa Depan Anak Kota

4 min read
Rapat Kerja Dewan Pendidikan Kota Surabaya, 19–20 Juni 2026, di Selasar Wonosalam.-Dewan Pendidikan Surabaya-Dewan Pendidikan Surabaya

Surabaya sedang tidak baik-baik saja dalam urusan pendidikan. Bukan karena tidak ada sekolah. Bukan pula karena tidak ada anggaran. Justru karena kota ini terlalu maju untuk membiarkan pendidikannya berjalan biasa-biasa saja.

Itulah salah satu kegelisahan yang mengemuka dalam Rapat Kerja Dewan Pendidikan Kota Surabaya, 19–20 Juni 2026, di Selasar Wonosalam. Raker itu bukan sekadar forum menyusun program. Ia menjadi ruang jujur untuk melihat kembali: pendidikan Surabaya mau dibawa ke mana.

Ada banyak problem yang muncul. Salah satunya soal “sekolah berbasis meteran”. Anak masuk sekolah sering kali lebih ditentukan oleh jarak rumah, bukan oleh kesiapan sekolah, mutu layanan, atau kebutuhan anak.

Sistem zonasi memang punya niat baik: mendekatkan anak dengan sekolah. Tetapi di lapangan, ia juga melahirkan kegelisahan baru. Orang tua tetap berburu sekolah yang dianggap bagus. Sementara sekolah yang belum punya reputasi kuat, peminatnya minim.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Feby, menyampaikan persoalan yang lebih mengkhawatirkan. Anak-anak kita sudah sangat jauh masuk ke dunia gawai. Bahkan sebagian penggunaan HP sudah “kebablasan”: masuk ke ranah ekstrem, terpapar konten berbahaya, hingga ada yang harus berurusan dengan layanan kesehatan jiwa. Ini bukan lagi sekadar soal anak terlalu lama bermain gim. Ini soal keselamatan generasi. 

Mutu pembelajaran juga menjadi catatan serius. Capaian anak-anak tidak merata. Ada yang sudah sangat baik. Tetapi masih ada pula yang tertinggal jauh.

Dalam catatan raker, disebutkan masih ada anak dengan nilai sangat rendah, sementara sebagian lainnya sudah mencapai nilai sangat tinggi. Jurang mutu seperti ini tidak boleh dianggap sebagai statistik biasa. Di balik angka itu ada wajah anak-anak Surabaya yang harus diselamatkan.

Raker juga menegaskan pentingnya pendidikan yang berakar pada karakter kota. Wali Kota Surabaya meminta Dewan Pendidikan mendorong Dinas Pendidikan menyusun kurikulum berbasis ke-Surabaya-an. Isinya bukan sekadar menambah mata pelajaran. Bukan pula membuat beban baru bagi guru dan siswa. Yang dibutuhkan adalah ruh: anak Surabaya harus mengenal kotanya, budayanya, sejarahnya, dan keberanian warganya.

Ludruk, bahasa Jawa, nilai egaliter, keberanian arek Suroboyo, gotong royong kampung, dan kepedulian sosial harus hadir dalam ekosistem pendidikan. Bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai pengalaman. Anak Surabaya tidak cukup hanya pintar matematika. Ia juga harus tahu cara menghormati tetangga, menjaga kampung, melawan ketidakadilan, dan bangga menjadi bagian dari kota pahlawan.

Karena itu, gagasan tentang kampung ramah anak menjadi sangat relevan. Pendidikan tidak boleh hanya berhenti di pagar sekolah. Anak hidup di rumah, di gang, di warung, di lapangan, di media sosial, dan di ruang publik kota. Kalau kampung tidak ramah anak, sekolah akan bekerja sendirian. Kalau orang tua tidak terlibat, guru akan kelelahan. Kalau lingkungan digital tidak dikendalikan, nasihat di kelas akan kalah oleh algoritma.

Prof. Martadi dalam raker menekankan perlunya rembug pendidikan. Dewan Pendidikan harus menguatkan empat fungsinya dan mengoptimalkan peran komite sekolah. Komite tidak boleh hanya hadir sebagai pelengkap struktur. Komite harus menjadi jembatan antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah kota. 

Di titik inilah Dewan Pendidikan Kota Surabaya harus mengambil posisi. Bukan sebagai lembaga yang hanya memberi pertimbangan formal. Bukan pula sebagai lembaga yang ramai saat ada masalah. Dewan Pendidikan harus menjadi lembaga solutif. Hadir dengan data. Berbicara dengan nalar. Bergerak bersama sekolah. Dan memberi kontribusi nyata bagi kota.

Prof. Dr. Marta mengingatkan bahwa Dewan Pendidikan perlu memberi kontribusi positif bagi Surabaya. Karakter ke-Surabaya-an sangat dibutuhkan, tetapi jangan sampai dimaknai sebagai penambahan materi pelajaran. Ia harus menjadi napas pendidikan kota. Ia harus masuk dalam cara guru mengajar, cara sekolah membangun budaya, dan cara anak-anak mengalami kehidupan sehari-hari. 

Salah satu kunci besar lainnya adalah guru. Kalau ingin murid pintar, guru harus terus ditingkatkan kualifikasinya. Tidak ada sekolah hebat tanpa guru hebat. Gedung bisa dibangun. Seragam bisa dibagikan. Teknologi bisa dibeli. Tetapi mutu pendidikan tetap sangat ditentukan oleh guru yang berdiri di depan kelas, mendampingi anak, dan menjadi teladan.

Raker Wonosalam juga mencatat perlunya SOP keterlibatan komite sekolah. Ini penting. Selama ini, banyak sekolah ragu melibatkan komite karena khawatir dianggap pungutan. Padahal partisipasi masyarakat adalah energi besar pendidikan. Yang diperlukan adalah aturan yang jelas, transparan, akuntabel, dan tidak membebani. Komite harus diizinkan berkegiatan, tetapi dengan tata kelola yang sehat.

Dari Wonosalam, Dewan Pendidikan Kota Surabaya perlu pulang dengan agenda yang lebih tajam. Pertama, merumuskan visi dan misi yang jelas. Kedua, mendorong kurikulum berbasis ke-Surabaya-an. Ketiga, memperkuat peran komite sekolah. Keempat, menginisiasi rembug pendidikan secara berkala. Kelima, ikut mengawal mutu guru dan mutu belajar anak. Keenam, mendorong kampung ramah anak sebagai bagian dari ekosistem pendidikan kota.

Surabaya terlalu besar untuk puas dengan pendidikan yang sedang-sedang saja. Kota ini punya sejarah keberanian. Punya tradisi perlawanan. Punya modal sosial kampung yang kuat. Punya wali kota, dinas pendidikan, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat yang bisa bergerak bersama.

Yang dibutuhkan sekarang adalah orkestrasi.

Dewan Pendidikan Kota Surabaya harus menjadi salah satu dirijennya. Bukan untuk tampil paling depan. Tetapi untuk memastikan semua unsur bergerak dalam nada yang sama: menyelamatkan masa depan anak-anak Surabaya.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan kota bukan hanya berapa banyak anak diterima di sekolah favorit. Bukan hanya berapa tinggi nilai asesmen. Tetapi apakah anak-anak Surabaya tumbuh menjadi manusia yang cerdas, sehat, berkarakter, mencintai kotanya, dan siap menghadapi zaman.

Raker di Selasar Wonosalam sudah memberi arah. Kini saatnya arah itu diubah menjadi gerak.

*) Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya dan Alumni doktor Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Sumber : https://harian.disway.id/read/953383/orkestrasi-dewan-pendidikan-surabaya-dari-wonosalam-untuk-masa-depan-anak-kota/15